Jumat, 05 Juni 2009

Titik Referensi

Ini adalah 'Titik Referensi Batas Laut Daerah Kota Batam' terletak di pulau Galang Baru, pulau paling ujung dari rangkaian gugusan kepulauan Batam.



Semoga saja, titik ini tetap akan terjaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai kelak dikemudian hari. Soalnya hari-hari belakangan ini, Indonesia sedang dilanda proses 'abrasi' kedaulatan, digerogoti negara tetangga : Malaysia dan Singapura.

Singapura sedang giat mereklamasi pantainya, memperluas daerahnya dan mengeruk pasir-pasir dari kepulauan Riau. Sementara Malaysia, sedang asyik mengutak-atik patok wilayah perbatasan dan mengganggu Ambalat.

Merah Putih, berkibarlah dengan gagah! Tunjukkan wibawamu....

Terbengkalai

Ada banyak hal yang mungkin luput dari perhatian kita, tersingkirkan, tercampakkan dan terbengkalai di sembarang tempat.

Tapi justru, hal-hal yang terbengkalai, tak terjamah perhatian itu menjadi amat menarik minatku akhir-akhir ini, dan aku akan berusaha merangkainya, memungutnya satu persatu di sini.

Walaupun nantinya, akan tetap tidak menarik perhatian dan tetap terbengkalai...


papan nama Masjid Baitul Makmur Jln. Prambanan Bukit Senyum Batu Ampar Kodya Batam, yang terkelupas, pudar dan tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan dan semak belukar.

Kamis, 04 Juni 2009

Pencemaran Nama Baik

Sejak mencuatnya kasus ibu Prita Mulyasari, yang 'dipenjara' karena mengirim e-mail berisi keluhan tentang pelayanan rumah sakit, aku nulis di blog menjadi amat berjingkat-jingkat.

Hati-hati, takut kepeleset dan 'kecebur' got.
Padahal nulis di blog itu nikmat, seperti nikmatnya ngemil popcorn gurih nan renyah. Mengalir saja seperti air banjir, membawa segala kotoran sampah, sandal jepit juga mungkin emas permata.

Bagi yang doyan nulis, nge-blog itu seperti candu, susah dikendalikan dan susah dihambat. Yah, karena yang kita tuangkan adalah ide-ide dikepala, yang sampai kapanpun, gak bakal abis. Walau sudah ditulis berulang-ulang.

Nah, ketika rame kasus ibu Prita tadi, ide-ide di kepala yang menunggu ditumpahkan ini, menjadi 'beku', dan menetes pelan-pelan, nggak kayak banjir lagi. Dipilah-pilahlah, mencomot kata yang sekiranya tidak menimbulkan masalah bernama 'pencemaran nama baik'.

Nah, kalau sudah kayak gini, kita nggak bebas ber-ekspresi lagi, harus pelan-pelan, hati-hati dan kaku! Takut kalau maksud kita (yang) cuma sekedar menumpahkan isi kepala, ditanggapi lain dengan versi berbeda oleh pihak lain.

Percayalah, kalau namanya 'persepsi' itu nggak bakal sama satu dengan yang lainnya, karena memang kita tidak dilahirkan dengan isi otak yang seragam. Niatnya guyonan, eh...ditanggapi dengan sewot. Niatnya curhat...eh, disikat dengan pasal 'pencemaran nama baik'.

Aku yakin, sejak kasus ini...nge-blog menjadi nggak bebas lagi, Nggak ada lagi pencurahan unek-unek bak banjir dengan segala barang (dan sampah) bawaannya. Nggak seperti makan popcorn yang gurih dan renyah lagi.
Betapa amat menyiksanya memilah-milah kata nan tidak 'berbahaya' biar tak terjerat pasal 'berjuluk' pencemaran nama baik...

Oh, My God!
Btw, difinisi yang jelas dan pas tentang pencemaran nama baik itu gimana sih?

Rabu, 03 Juni 2009

Tas

Selain penggemar jaket, aku juga pecinta tas.
Ya, tas yang unik, keren dan multifungsi. Tidak perlu tas yang besar, yang penting bisa dibawa berpetualang dengan nyaman.

Cukup memuat flash disk, external harddisk, alat tulis, buku bacaan, notes buat catatan kecil dan keperluan multifungsi lainnya, semisal kamera atau handycam.
Maklum, aku doyan banget melancong dan ngelayap, jadi perlu hal-hal yang 'penting' dan urgent disaat darurat di 'alam' petualangan.



Setelah kesana-kemari mencari dan memilih, akhirnya kudapatkan model seperti ini. Merknya ASMN AOMANKA.
Unik, model tas tukang pos waktu jaman Perang Eropa dulu.

Sarapan Pagiku

Pagi adalah saat ternikmat dalam hidupku. Dalam satu hari, selama 24 jam, waktu favoritku adalah antara jam 5 pagi sampai jam 9 pagi.

Entah kenapa, aku amat mencintai dan menikmati suasana pagi hari?
Dan, sarapan pagi merupakan acara pelengkap kenikmatan itu. Entah kenapa (juga), sejak tinggal di Batam selama hampir lebih 3 tahun, aku mulai terbawa 'langgam' budaya Melayu.

Nongkrong di kedai kopi, sambil berbual-bual dan menikmati sarapan pagi.
Dan sarapan pagi favoritku adalah bubur ayam dengan secangkir kopi tiam yang tidak pahit...

Ah, nikmatnya pagi ini.

Manohara dan Ambalat

Akhir-akhir ini, berita di televisi sedang disesaki oleh kasus-kasus yang berkaitan dengan Malaysia, ya Manohara...ya pulau Ambalat.

Manohara, putri asal Indonesia yang diperistri oleh putra raja Kelantan (Malaysia), berhasil kabur dari kungkungan suaminya dan sekarang sedang heboh menjadi selebritis 'dadakan' (nongol di setiap acara gossip di hampir seluruh stasiun TV di Indonesia).

Dia datang dengan segudang masalah dukanya selama bersuamikan putra raja Kelantan. Bahkan konon, kisah kaburnya penuh suasana ketegangan.

Sementara pulau Ambalat, sebuah pulau kecil milik Indonesia yang mengandung minyak menggiurkan, sering dicolek dan diganggu oleh angkatan laut diraja Malaysia. Beberapa kali, bahkan seperti 'meledek' Indonesia dengan memasuki wilayah perairan Indonesia.

Sebenarnya, kedua peristiwa itu kandungan substansinya beda banget. Satu menyangkut masalah pribadi, masalah keluarga. Dan satu lagi, masalah negara masalah kedaulatan.
Namun kalau dipandang dengan kacamata politik, dua-duanya menyangkut martabat negara Indonesia.

Manohara warga negara Indonesia yang wajib dilindungi, begitu juga pulau Ambalat yang wajib dijaga. Nah, disinilah letak kewibawaan negara Indonesia diuji.
Apakah akan terus-menerus membiarkan warga negara dan pulaunya dijadikan bahan ejekan?
Sebelum kasus Manohara mencuat, sebenarnya sudah banyak kasus lain yang menyangkut WNI disakiti di negeri jiran itu, TKI-TKW, Asykar Wathaniah.
Pulau Sipadan dan Ligitan pun telah lepas dicaplok oleh Malaysia.

Belajar dari kasus-kasus yang telah terjadi tersebut, seharusnya pemerintah Indonesia mulai menunjukkan harga dirinya. Mulai mengeluarkan wibawanya.
Tidak selamanya kita terus-terusan diejek dan dijadikan bahan mainan?

Mana ada negara di dunia yang mau dijadikan mainan dan bahan ledekan oleh negara lain?

Senin, 01 Juni 2009

Andai Waktu Terhenti di Minggu Pagi

Minggu pagi kemarin, mulai dari jam 6 pagi sampai jam 9, aku bersama kedua lelaki gantengku dan Mamanya menikmati hangatnya mentari di Ocarina.
Sebagian masyarakat Batam pasti hapal dengan letak Ocarina.

Sebenarnya kami kesana sudah sekian kali, karena cuma itulah sarana berlibur yang terdekat dari rumah kami. Dan juga, tempat yang nyaman buat olahraga pagi bersama keluarga : senam, jogging, lari-lari dan aktifitas olahraga lainnya.

Yah, kumpul-kumpul dengan kedua anak lelakiku adalah moment yang amat mahal, saat yang tak ternilai harganya. Setelah sekian hari berkubang dalam rutinitas kerja, berkumpul dengan mereka seakan dunia terasa berbunga-bunga dan harum semerbak.

Aku menikmati tidur di alam terbuka, menatap langit dari celah-celah daun pohon pinus yang menaungi, sambil bercanda dengan mereka.

Namun sayangnya, kadang waktu yang berharga itu terasa berlangsung amat singkat.
Baru saja menikmati semua keindahan itu, siang sudah menjemput. Dan pagi harus segera pergi, membawa kenangan-kenangan keindahannya.

Berlalu begitu saja, tanpa bisa kita mencegahnya.
Ah, andaikan waktu terhenti di Minggu pagi...